Awareness emerged as I became more and more dissatisfied with what I could and could not do with traditional scientific method research. It seemed to me that traditional research based on the scientific method forced us to study some of the least important issues because we could quantify the variables and control the experimental context. While we were publishing plenty of methodologically sound studies, we seemed to be publishing too few papers on the topics that were really important.
Palupi merasa tidak berbahagia hidup dengan suaminya, seorang pengarang idealis yang rela hidup miskin untuk mempertahankan prinsip kejujuran dan kebenaran. Suatu kali, Palupi mendapat tawaran membintangi sebuah film. Pada awalnya suaminya berkeberatan, tetapi karena didesak terus, akhirnya mengijinkan. Diam-diam, Palupi jatuh hati kepada sang sutradara film. Cinta Palupi bersambut, sang sutradara meninggalkan pacarnya. Tetapi setelah sang sutradara meninggalkan pacarnya, Palupi justru jatuh cinta lagi pada seorang pengusaha muda kaya. Sang sutradara merasa dikhianati sehingga meninggalkan Palupi untuk kembali kepada pacarnya yang masih setia menunggu. Apa yang kemudian terjadi dengan Palupi, dibiarkan mengambang oleh sang sutradara film ini, Asrul Sani. Maka judulnyapun menjadi sebuah pertanyaan, "Apa Jang Kau Tjari, Palupi?", diproduksi tahun 1969, dan terpilih sebagai film terbaik pada Fertival Film Asia tahun 1970.